HANYA DUNIA dan SAYA

Keraguan, Pertanyaan, Pernyataan

CIN(T)A : SEBUAH REVIEW TUHAN SANG ARSITEK DAN DIRECTOR

leave a comment »

CIN(T)A, Film Indie yang diproduseri sembilan matahari dan disutradrai oleh Sammaria Simanjuntak berhasil membawa nuansa baru perfilman Indonesia yang belakangan banyak dipenuhi oleh film-film horor dan percintaan yang melankolis. meskipun tetap mengambil tema percintaan, CIN(T)A menawarkan suatu hal baru yang menekankan nilai-nilai filosofis tentang kehidupan, Cinta, dan Tuhan.

Film ini secara khusus menceritakan tentang bagaimana dua orang yang berbeda agama dan suku saling mencintai tetapi terpisahkan oleh perbedaaan mereka dalam menyembah dan menyebut Tuhan yang mereka berdua juga cintai. Perbedaan – perbedaan mereka ini di sarikan dalam dialog-dialog yang berbau filosofis mengenai Tuhan, agama dan Cinta itu sendiri. Inti dari Film ini terdapat pada dialog ringan kedua tokohnya mengenai apakah Tuhan dapat diumpamakan sebagai Arsitek atau sebagai seorang sutradara ( director). Disadari atau tidak, film ini mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Tuhan sebagai seorang arsitek adalah tuhan yang menciptakan semua ciptaannya dengan bentuk, corak, warna dan ukuran yang tepat. Meskipun melalui proses yang panjang dan berat tetap semuanya pasti baik dan Indah pada akhirnya sehingga manusia (ciptaannya) tidak perlu bertanya-tanya apa maksud Tuhan dalam kehidupannya karena Dia pasti akan memberikan yang terbaik kepada ciptaannya dengan perhitungan yang cermat dan tepat layaknya arsitek. Tuhan sebagai arsitek inilah yang dipercayai tokoh utama laki-laki, CINA, dalam Film ini. Dia berpikir bahwah Tuhan menciptakan segala sesuatu baik pada akhirnya. segala perbedaan diciptakan untuk kita dapat bersatu. ini dituangkan dengan ungkapannya “United In Diversity”. Tuhan menciptakan perbedaan-perbedaan itu agar Ia ingin disembah dengan berbagai cara dan panggilan/ nama. oleh karena itu dia menciptakan apa yang diumpamakan “Arsitektur kampung kota” dalam film tersebut. tempat orang-orang dari segala lapisan, golongan, suku, dan agama berkumpul dalam suatu komunitas tanpa mempersoalkan apa latar belakang mereka.

Sedangkan Tuhan sebagai Director adalah Tuhan yang mengendalikan Ciptaan-ciptaannya sesuai dengan kehendaknya dan keinginannya. Tuhan sebagai Sutradara memberikan essensi dari ciptaannya untuk kesenangannya semata. Ke-Esa-annya sebagai pengatur memberikannya berbagai pilihan bagaimana kisah-kisah dalam “film”nya harus diakhiri. apakah berakhir “happy ending” atau “bad ending”. hal itu adalah authoritasnya sebagai sutradara. Tuhan yang seperti inilah yang dipercayai oleh Annisa, tokoh utama perempuan dalam film ini. Latar belakangnya sebagai Artis yang di Cap “gagal’ oleh orang – orang disekitarnya hanya karena bermodalkan kecantikan, Ayahnya yang telah meninggal serta ibunya yang kawin-cerai yang diberitakan oleh media secara luas juga meninggalkan luka yang dalam bagi kehidupannya. terlebih ketika sang ibu mencoba untuk menjodohkan dirinya ke seorang lelaki Cina tua yang juga kaya raya dan seagama dengannya. Hal-hal tersebut yang membuatnya merasa bahwa dirinya bukanlah dirinya tetapi Tuhan yang mengendalikannya melalui orang-orang terdekatnya. otonominya sebagai seorang manusia hanyalah ilusi semata.

Pertarungan Filosofis antara kedua tokoh tersebutlah yang memberikan warna khusus dan keunikan dari film ini. Annisa yang kemudian “berteman dekat” dengan CINA secara perlahan-lahan mulai masuk kedalam dunia filosofsi CINA tentang TUHAN, Cinta, Keberagaman dan tentu saja “akhir yang indah”. Tetapi pada klimaksnya, semua romantisme itu kembali sirna ketika tragedi BOM di Gereja-gereja tahun 2000 terjadi. CINA, yang mempercayai bahwa Tuhan pasti menciptakan makhluk-makhluknya untuk suatu tujuan yang Indah mulai kehilangan pijakannya. penilaiannya tentang Tuhan berubah drastis. Tuhan dinilainya hanya sebagai konsep yang hanya menimbulkan pertikaian, perang dan kehancuran diantara umat manusia. bahkan disatu sisi, digambarkan CINA yang mulai mencoba menampikkan adanya Tuhan dalam hidupnya dengan menjadi atheis. Kecintaannya terhadap Tuhan hilang. Ia hanya mempercayai Cintanya terhadap Annisa.

Perubahan-perubahan didalam diri CINA lah Annisa kembali meragukan filosofi Tuhan sang arsitek. Ia kembali kenilai-nilai filosofis Tuhan sebagai Director sebagaimana yang dipercayainya. Ia Menikahi laki-laki pilihan ibunya. di akhir cerita, CINA juga melihat bahwa semua yang dilakukan Tuhan adalah sesuai dengan yang diinginkannya sebagai sang Director. Ia melihat bahwa ke-Esa-annya bukan terletak pada keindahan dan kebaikannya saja, tetapi juga terhadap kejahatan dan keburukannya. Tuhan adalah sutradara terbaik dan terburuk. GOD IS A DIRECTOR.
AMIN ?

Terlepas dari cerita tersebut. film ini merupakan sebuah batu pijakan untuk membawa kembali filsafat keranah publik. Film ini diharapkan mampu menciptakan kembali perdebatan-perdebatan filosofis tentang makna Tuhan, Cinta dan Keberagaman dalam beragama yang semakin mengering dihempas angin fantatisme sempit di Indonesia yang terasa menguat akhir-akhir ini.

Written by Tommy DMT

September 26, 2010 at 2:05 am

Owner Influence and Media Competition: Small note on Metro Tv vs. TV One

leave a comment »

For years, Metro TV has dominated the one and only channel news program in Indonesia. However, for the last two years, TV One has shown up to produce and broadcast news. The establishment of TV One has become a serious competitor to Metro TV in providing news channel in Indonesia’s television Industry.

As the similar channel news program, both channels are competing each other to provide actual, accurate and credible news. It is interesting how they try to persuade the viewer to watch their channel. They try to produce something different in broadcasting news in order to take viewer segmentation in news channel. TV One as new comer channel news has to develop different, fresh and unique news program to compete with ‘grown up’ channel news TV, Metro TV. Therefore, observing both channels will give us better understanding the difference between those two.

Having watched both channels lately, there are several fundamental things which differentiate them. Understanding the owner of the channel does matter to compare both channels. It is widely known that Metro TV is owned by Surya Paloh, leading media industry entrepreneur, while Aburizal Bakrie establishes TV One. Both of them were competing to lead Golkar Party which was won by Bakrie, recently. Apparently, the competition is not only occurred within the Forum but also spreading to the media they owned.

Metro TV in its publication tends to cornering Aburizal Bakrie especially when it touches Lapindo’s case. Metro TV is highly blaming the mud case to Lapindo Brantas messy exploitation and gives attention to the victim that has been ignored by the company. Metro TV usually called the case as ‘Lapindo Mud’ ( Lumpur Lapindo) that is directly referred to the company. On the contrary, the publication of TV One is quite different when the Lapindo case appears. TV one tends to avoid the case by keeping the issue low profile. Nonetheless, when it has to publish the news, the publication tends to blame on natural disaster and the government should have provided aids to the victims. It also called the case as Sidoardjo Mud (Lumpur Sidoardjo) which is referred to the geography.

Bakrie even has sentimental view on Metro TV. He directly refused to answer the question from Metro TV reporter when he was interviewed after the seminar event held by Golkar. Meanwhile, TV One is widely published the demonstration of papandayan hotel workers regarding the unpaid wages. Papandayan hotel in bandung is owned by Surya Paloh. Oh the other side, Papandayan’s case is only low issue in Metro TV. from this point, there are tendency that TV One and Metro TV is being used on behalf of its owner to spread their influence and spoil the other.


Written by Tommy DMT

September 25, 2010 at 7:38 pm

Posted in Corat Coret, Politic

Killer Coke: Pengungkapan Pelanggaran Kemanusiaan

leave a comment »

Pendahuluan

Globalisasi Menjadi trend baru setelah berakhirnya era perang dingin . setelah “kemenangan” paham demokratis melawan komunis, globalisasi secara tidak langsung menjadi suatu paham untuk tatanan dunia baru yang paling baik diterapkan pada abad 21 . Efek globalisasi dapat dirasakan dalam bidang perekonomian. Globalisasi memunculkan era baru yang dinamakan kapitalisme dalam bidang ekonomi dimana para pengusaha membangun perusahaannya dengan kekuatan modal yang besar yang mampu melewati batas-batas negara dengan berinvestasi di negara lain. Khusunya dinegara yang menyediakan sumber-sumber daya yang murah yang adalah negara-negara miskin dan berkembang

Perusahaan-perusahaan tersebut awalnya hanya bersifat lokal atau nasional , tetapi dengan strategi yang baik dan memanfaatkan peran dari media sebagai cara penjualan produknya , perusahaan-perusahaan tersebut berkembang sangat pesat dan mulai mengepakkan sayapnya kenegara-negara lain sebagai sasaran investasi maupun pemasaran . perusahaan seperti itu dinamakan MNC (Multi National Corporation) dalam dunia ekonomi.

Pada sisi , kapitalisme memang dapat menghasilkan keuntungan bagi negara dan MNC . Negara akan diuntungkan dengan penerimaan pajak dan terserapnya tenaga kerja yang dapat mengurangi angka pengangguran dan perusahaan mendapatkan keuntungan melalui pemberdayaan sumber daya yang tersedia dinegara tersebut dan atau pemasaran ke negara tersebut. Tetapi, permasalahan terjadi ketika negara menjadi sangat tergantung kepada MNC tersebut . Negara, disadari atau tidak , akan melonggarkan kontrol terhadap perusahaan. Akibatnya adalah perusahaan dapat melakukan perilaku tak-etis dalam menjalankan industrinya. Yang sering terjadi adalah perusahaan mulai mengeksploitasi para pegawainya/ tenaga kerjanya dan sumber-sumber daya lainya tanpa mematuhi prosedur yang berlaku dan sudah ditetapkan sebelumnya.

Kasus Pengeksploitasian sumber daya besar-besaran oleh MNC banyak sekali terjadi didunia, khususnya pada negara-negara dunia ketiga dan seringkali luput oleh pemberitaan media. Kelompok kami mengambil contoh pada perusahaan Coca-Cola Company yang menjadi salah satu Leading Brand di bidangnya yang memproduksi minuman cola bersoda yang sudah dikenal diseluruh dunia. Dibalik nama besarnya itu, Coca-Cola memiliki masalah kemanusiaan dalam memperlakukan para pekerjanya dan lingkungan.

Masalah tersebut mulai terungkap secara luas oleh media massa sejak peristiwa penembakan Serikat buruh oleh Perusahaan Minuman Coca-Cola Company yang akhirnya mendapat perhatian dunia yang mengecam Coca-Cola bahkan berusaha untuk memboikot produknya . Melalui Kasus ini , kami berusaha menjawab 3 pertanyaan besar dari kasus tersebut. Pertanyaan tersebut menyangkut bagaimana sebenarnya perlakuan The Coca-Cola Company terhadap para buruhnya, bagaimana peranan media dalam mengungkapkan krisis kemanusiaan yang dilakukan oleh Coca-cola company serta apakah peristiwa tersebut merupakan cerminan dari Globalisasi ekonomi yang diusung negara barat .

Coca-Cola , Produk Apotik Lokal yang Mendunia

Coca-Cola pertama kali ditemukan di Colombus , Georgia , Amerika Serikat oleh seorang ahli farmasi , John Stith Pemberton . Coca-Cola yang dikenal sekarang ini awalnya merupakan Wine Cola[2] atau minuman anggur berkola yang di buat oleh Pemberton pada tahun 1885 .

Di tahun 1886 , ketika negara bagian Atlanta melarang peredaran alkohol , Pemberton meresponnya dengan pengembangkan Coca-Cola , yang secara mendasar adalah minuman berkarbonasi dan non- alkohol atau versi wine cola tetapi tanpa alkohol .

Penjualan pertama Coca-Cola adalah pada tanggal 8 Mei 1886[3] di Jacob’s Pharmacy . Atlanta , Georgia . Coca-Cola di jual dengan harga 5 sen[4] sebagai salah satu obat yang sudah dipatenkan. Pemberton berargumen bahwa Coca-Cola dapat menyembuhkan banyak penyakit termasuk ketergantungan morphine , depresi , pusing dan impotensi. Pada tanggal 29 Mei ditahun yang sama , Pemberton mulai mengiklankan produknya sebagai minuman ringan yang diterbitkan oleh Atlanta Journal[5], media massa lokal di tempatnya tinggal.

Pada1888 , tiga jenis Coca-Cola dilemparkan kepasaran. Ketiga produk Cola tersebut dijual oleh tiga perusahaan yang berbeda. Berawal dari pembelian saham perusahaan cola Pemberton oleh Asa Griggs Candler ditahun 1887 dan bergabung menjadi Coca-Cola Company ditahun 1888[6]. Pada yang sama , Pemberton juga menjual “saham”nya kembali kepada pebisnis yang dipimpin J.C Mayfield karena kesulitan dana akibat ketergantungannya kepada morphine. Sementara anak Pemberton yang mengetahui formula pembuat Coca-Cola juga menjual versinya sendiri[7]

Untuk meluruskan kerancuan tersebut, John Pemberton mengumumkan bahwa merek dagang dari Coca-Cola Company menjadi hak milik anaknya, Charley Pemberton , tetapi kedua perusahaan yang lain dapat menggunakan formulanya. Setelah kejadian tersebut , Candler menjual minuman ringanya dengan nama Yum-Yum dan Koke tetapi keduanya kurang mendapat respon baik dimasyarakat sehingga Chandler berusaha memperoleh hak secara legal dengan membeli hak eksklusif Coca-Cola dari John Pemberton sebagai upaya mematikan kedua pesaingnya tetapi upaya tersebut banyak menuai persoalan.

Sengketa kepemilikan nama Coca-Cola Company berakhir setelah Chandler memenangkan kasus tersebut dan membangun kembali The Coca-Cola Company pada tahun 1892. Setelah kemenangannya tersebut, Chandler mulai aktif mengiklankan produknya dengan cara-cara unik dan inovatif . ditahun 1894 Coca-Cola dijual pertama kali dalam kemasan botol dan Kemasan kaleng dipasarkan kemudian pada tahun 1955[8] . Karena selalu mengikuti selera pasar dengan didukung cara periklanan yang Inovatif , Coca-Cola berkembang sangat pesat dan menyebar keseluruh dunia..

The Killer Coke

Istilah Killer Coke mulai dipakai saat The Coca Cola Company di Kolombia diprotes besar besaran oleh sejumlah LSM internasional karena dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat di Kolombia. Bermula dari pengaduan asosiasi buruh Kolombia yang bernama Sindicato Nacional de Trabajadores de la Industria de Alimentos (National Syndication of Food Industry Workers) atau SINALTRAINAL, yang mengatakan bahwa telah terjadi pelanggaran hak pekerja di perusahaan pengemasan atau lebih tepatnya pembotolan Coca Cola di Bucaramanga, Kolombia. Pekerja di perusahaan tersebut bekerja dalam waktu kerja yang lebih panjang dari yang diatur oleh undang undang setempat dan dibayar dengan upah yang sangat kecil ( sebagai perbandingan di Indonesia buruh Coca Cola hanya digaji Rp 150. 000,00 perbulan[9] ). Di Kolombia pada tahun 1989-2002 sudah ada 8 orang tewas akibat eksperimen produk[10] yang membuktikan sangat sedikitnya ( bahkan dapat dikatakan tidak ada ) kepedulian Coca Cola akan keselamatan pekerjanya.

Selain itu yang lebih mengerikan pekerja tersebut bekerja dibawah tekanan paramiliter bersenjata yang mengawasi mereka dan tidak ragu untuk menggunakan senapannya bila ada pekerja yang melakukan kesalahan atau dengan kata lain Coca cola menggunakan tenaga paramiliter untuk mengintimidasi bahkan membunuh secara diam diam buruh yang berusaha melawan atau hanya sekedar memprotes manajemen untuk menaikan gaji. [11] Bahkan bukan hanya pekerja yang mengalami intimidasi,keluarga mereka pun juga akan menjadi sasaran penculikan bahkan pembunuhan bila mereka melakukan kesalahan fatal. Paramiliter diberitakan bekerja sama dengan Coca Cola untuk meningkatkan efisiensi perusahaan serta untuk menjaga agar tidak ada pekerja yang berani membocorkan aib perusahaan kepada dunia luar.

Para aktivis yang gencar menyuarakan hak hak buruh akan mendapat perlakuan buruk dan intimidasi dari paramiliter, seperti pada kasus Efrain Guerrero, seorang pemimpin Serikat Buruh lokal yang selalu diawasi dan dibuntuti oleh paramiliter bersenjata kemanapun ia pergi dan pada puncaknya 3 saudaranya ditembak di rumahnya pada April. Kasus lainnya, seorang pengurus serikat buruh William Mendoza yang mengatakan bahwa paramiliter telah menculik dan membunuh anak perempuannya yang berumur 4 tahun. Dia percaya ia menjadi target karena pada tahun 2003 dia mengungkapkan adanya kolusi finansial antara paramiliter dan manajemen perusahaan Coca Cola.

Coca Cola telah beroperasi di Kolombia lebih dari 70 tahun.saat dimintai pertanggungjawaban pihak Coca Cola berkelit bahwa perusahaan pembotolan di Bucaramanga bukanlah milik Coca Cola yang bermarkas di Atlanta melainkan adalah milik perusahaan Meksiko Coca Cola FEMSA, dimana di perusahaan tersebut (FEMSA) Coca Cola “hanya” memiliki saham sebesar 47 % dan secara hukum menurut perjanjian yang telah disepakati antara Coca Cola dan FEMSA sebelumnya, Coca Cola tidak bertanggung jawab pada buruh yang ada di Bucaramanga, Kolombia. Selain itu Coca Cola mengatakan bahwa tidak mengetahui adanya paramiliter di dalam pabriknya di Kolombia ( suatu hal yang aneh mengingat Coca Cola merupakan salah satu perusahaan ternama yang bersikeras menerapkan kontrol dan standar kerja yang sesuai dengan kebijakan perusahaan, yang berarti adanya kontrol rutin dari Coca Cola ke seluruh pabrik yang memegang lisensi produk Coca Cola ).

Karena kuatnya dorongan masyarakat internasional terutama LSM yang bergerak dalam bidang kemanusiaan dan hak asasi manusia, untuk mengusut dugaan pelanggaran HAM di Kolombia, pihak dari Coca Cola akhirnya bertemu langsung dengan IUF sebagai sebuah lembaga perwakilan internasional dari buruh yang terorganisir di seluruh dunia termasuk banyak buruh yang bekerja di perusahaan Coca-Cola pada tanggal 15 Maret 2005. Perusahaan Coca Cola sepakat bahwa perwakilan senior dari perusahaan Coca Cola akan bertemu dengan sebuah tim dari perwakilan IUF dan affiliasi-afiliasinya dua kali setahun dan bahwa management hubungan perburuhan senior akan melakukan komunikasi terus-menerus dengan IUF antara pertemuan tersebut. Coca Cola juga menyetujui bahwa buruh Coca Cola berhak untuk menjalankan hak-haknya untuk menjadi anggota serikat buruh dan melakukan perundingan secara kolektif tanpa tekanan atau campur tangan. Hak-hak tersebut dilakukan tanpa rasa takut atas tindakan balasan, penindasan ataupun bentuk diskriminasi lainnya.[12]

Sebenarnya protes kepada perusahaan Coca Cola tidak hanya terjadi di Kolombia terutama karena kecilnya upah yang diberikan pada pekerjanya. Di India banyak orang berdemonstrasi sebab limbah Coca Cola merusak perairan sehingga membahayakan penduduk yang hidup dari meminum air tersebut. Coca Cola juga terkenal sebagai salah satu perusahaan paling diskriminatif di banyak pabriknya di Amerika, sehingga salah satu akibatnya terjadi demonstrasi kaum african-american untuk menuntut gaji yang sama besarnya dengan pekerja kulit putih pada tahun 2000.

Peran Media dalam mengungkapkan kasus Killer Coke

SINALTRAINAL[13] yang gencar meneriakkan keadilan melalui berbagai macam cara, salah satunya dengan membuat situs killer coke dan dukungan berbagai macam LSM internasional seperti IUF, ditambah dengan peran media telah membuahkan sebuah laporan investigasi seperti berikut :

Kolombia menjadi salah satu contoh negara yang menjadi model penggunaan kekerasan yang ekstrim akibat dari neoliberal globalisasi. Berbagai macam organisasi terkenal di Kolombia banyak yang menggunakan tindakan kekerasan seperti para pekerja yang dibunuh akibat menentang rencana dari investor.

Coca-Cola melalui cabanganya di Kolombia yaitu PANAMCO SA dan Bebidas y Alimentos de Urabá SA melakukan perperangan terhadap masyarakat sipil di Kolombia. Selama 10 tahun 8 orang pemimpin perserikatan pekerja di industry telah di bunuh. Dua di antaranya diasingkan,dan lebih dari 48 orang menderita akibat dipisahkan.

Selain itu aktivitas para pekerja di awasi oleh paramiliter[14] yang dilengkapi dengan persenjataan. Mereka memaksa para pekerja. Paramiliter juga melayani perusahaan multinasional dan melayani aktivitas yang tidak sah dari perusahaan tersebut seperti:memaksa para pemimpin perserikatan,memaksa pekerja,membatalkan persetujuan perundingan/perjanjian,memaksa para pekerja untuk menyerahkan kontrak kerja mereka dan mereka memberikan gaji yang rendah serta mengancam akan banyaknya pekerja yang baru yang akan memasuki pekerjaan mereka. Kebijakan tenaga kerja yang di lakukan Coca-Cola merupakan usaha untuk meningkatkan hasil dan labanya.

Sehingga para Serikat buruh seluruh dunia meluncurkan suatu boikot terhadap produk Coca-Cola karena perusahaan tersebut menggunakan kelompok yang bersifat kemiliteran/paramiliter untuk menakut-nakuti,mengancam dan membunuh para pekerjanya di Kolombia. Perserikatan Coca-Cola di Kolombia menyewa far-right atau AUC (United Self Defence Forces of Kolombia) untuk membunuh 8 anggota perserikatan pekerja pada pabrik pembotolan Coca-Cola di Kolombia 18 tahun yang lalu.

Tujuh tahun yang lalu,the Kolombian food and drink union SINALTRAINAL menggugat Coca-Cola dan orang Kolombia yang bekerja di pabrik pembotolan di pengadilan di Miami atas kematian pekerja di pabrik Coca-Cola. Mereka menuduh paramiliter memanfaatkan kekuatannya untuk melakukan hal-hal ekstrim seperti membunuh,menyiksa,dan menangkap para pekerja yang membocorkan rahasia tersebut.

Javier Correa,Presiden Sintaltrainal mengatakan bahwa kampanye tersebut diadakan untuk mengurangi penderitaan para pekerja yang menderita sejak bekerja di pabrik Coke.

Javier Correa menyuarakan bahwa:”kami menginginkan keadilan. Kami ingin agar orang-orang mengetahui kebenaran tentang apa yang terjadi dengan para pekerja Coca-cola di Kolombia. Sekarang kau sudah mengetahuinya,maukah kau membantu kami?”.

Hingga hari ini,Sinaltrainal masih melanjutkan perjuangannya melalui kampanye melalui media yaitu “Killer Coke”-nya (www. killercoke. org) dan menyerukan pemboikotan global atas Coca-Cola.

Akan tetapi pihak dari Coca-Cola menyatakan bahwa statement tersebut tidak didasari dengan bukti yang kuat dan menganggap bahwa kampanye yang dilakukan tersebut adalah sesuatu usaha yang tak tau malu yang hanya bertujuan untuk publisitas.

Masalah Coca-cola di media luar negri sangat terkenal sedangkan media local tidak mencantumkan masalah kampanye yang dilakukan oleh pekerja Coca-Cola. Di Kolombia kasus ini sangat sulit di cantumkan di media local karena semua hal tersebut merupakan kultur kebebasan dari hukuman.

Kasus yang telah berlangsung 18 tahun ini masih belum bisa di selesaikan dan terpecahkan.

Peristiwa pemboikotan Coca-Cola di Kolombia ini memuncak pada pagi hari tanggal 5 Desember 1996,dua anggota pasukan paramiliter local mengendarai sepeda motor menuju sebuah pabrik pembotolan milik Coca-Cola di Carepa,Kolombia Utara. Tepat di pintu gerbang pabrik,mereka melepaskan 10 tembakan peluru ke arah seorang pekerja yang bernama Isindro Segundo Gill[15] hingga tewas. Isindro Gill merupakan seorang anggota dewan eksekutif serikat pekerja,dan anggota dari SINALTRAINAL, yaitu serikat pekerja industry makanan nasional di Kolombia. Luis Adolso Cardona, seorang pekerja lainnya yang sedang bekerja,menjadi saksi pembunuhan tersebut. Saat mendengar tembakan pistol dan melihat tubuh Isidro Gill ambruk, Cordona langsung berlari untuk menyelamatkan, namun Isidro telah meninggal dunia.

Beberapa jam kemudian paramiliter berusaha untuk menangkap Cordona tetapi Cordona berhasil melarikan diri menuju kantor polisi. Mendekati tengah malam,sekelompok anggota pasukan paramiliter mendatangi sebuah rumah yang digunakan sebagai kantor serikat pekerja local,mereka mengobrak-abrik dan membakar tempat tersebut. Keesokan harinya,sepasukan paramiliter mendatangi pabrik dimana Isidro terbunuh. Disana mereka mengumpulkan sebanyak 60 pekerja,yang juga aktif dalam serikat pekerja dan mengancam untuk segera menandatangani surat pengunduran diri dari serikat yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh manager pabrik. Kelompok para militer tersebut juga mengancam kalau para pekerja tidak menandatangani surat tersebut sebelum pukul empat sore,maka ke 60 pekerja tersebut akan dibunuh. Sehingga tidak ada kata lain ke 60 aktivis serikat itu menandatangani surat pengunduran diri dari serikat, sementara sebagian dari mereka baahkan mengundurkan diri dan berpindah kota.

Selama dua bulan pasukan militer mendiami posko-posko penjagaan di sekitar pabrik-pabrik pembotolan Coca-Cola. Coca-Cola membatalkan kontak kerja hampir seluruh pekerjanya,termasuk mereka yang tidak pernah terlibat dalam aktivitas serikat pekerja. Pekerja yang berpengalaman dihargai $ 380 per bulan,dan digantikan dengan pekerja baru dengan upah $130 per bulan.

Isidro Segundo Gill yang berumur 27 tahun,sudah bekerja selama 8 tahun di pabrik Coca-Cola. Istrinya Alcira Gill, meminta pertanggung jawaban Coca-Cola atas kematian suaminya. Namun,yang didapat oleh Alcira jauh dari memuaskan. Pada tahun 2000 ia di bunuh oleh pasukan paramiliter meninggalkan dua anaknya yang yatim piatu.

Miami, AS pada bulan Juli 2001. Sinaltrainal[16] sebagai representasi para buruh perbotolan Coca-Cola di Kolombia bersama-sama dengan organisasi advokasi asal DC The International Labor Rights Fund (ILRF),United Steelworkers of America,keluarga Isidro Gil dan 5 orang pekerja yang mengalami penculikan dan penyiksaan,mengajukan gugatan terhadap Coca-cola dan perusahaan pembotolan di Kolombia:Panamerican Beverages,atas kematian Isidro Gill. Mereka juga menuntut pertanggung jawaban atas kekerasan yang terjadi di pabrik-pabrik pembotolan di Kolombia yang melibatkan paramiliter dalam pabrik untuk secara sistematis melakukan intimidasi,penculikan,penahanan dan pembunuhan terhadap para pekerja. Tentu saja Coca-cola menyangkalnya.

Para hakim pun berpendapat bahwa tidak ada satu tuntutan pun yang dapat memberatkan Coca-Cola atas terbunuhnya Isidro Gill bersama ke 7 aktivis lainnnya dan berbagai praktek kekerasan di pabrik-pabrik pembotolan. Pada akhir Maret 2003,semua tuntutan yang dijatuhkan kepada para tersangka pun akhirnya di cabut oleh hakim yang berwenang dengan berbagai alasan seperti:pembunuhan tersebut tidak terjadi di America Serikat dan sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan Coca-Cola yang berada di Atlanta.

Seorang hakim federal bernama Jose E. Martinez mengizinkan agar perkara ini dilanjutkan terhadap dua perusahaan pembotolan milik coca cola di Kolombia:Femsa dan Panamerican Beverages,tetapi bukan Coca-Cola secara langsung. Namun,pada 4 September 2006 Jose E. Martinez membebaskan ke dua perusahaan tersebut dari semua tuntutan.

Seharusnya kita semua dapat belajar dari banyak kasus yang terjadi di sepanjang sejarah ,bahwa hukum diciptakan untuk melindungi kepentingan capital serta sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan. Seperti Korporasi Multinational lainnya yang memegang kendali atas pemerintahan sebuah negara, Coca-Cola bertujuan untuk memegang kendali sepenuhnya atas manufaktur serta distribusi produknya keseluruh penjuru dunia dan mengumpulkan keutungannya,tapi menolak untuk bertanggung jawab atas setiap dampak yang ditimbulkannya. Kalau pun ada bukti bahwa perusahaan bertindak di luar “hukum” maka seperti biasa alasan yang digunakan adalah:”itu adalah tindakan oknum,bukan kami”

Melalui kasus ini media-media mulai membuka mata terhadap kejahatan bisnis yang dilakukan oleh Coca Cola Company bahkan majalah internasional TIME pernah membahas secara khusus kasus yang terjadi di Kolombia tersebut. Hal ini membuktikan bahwa media berperan penting terutama dalam menyadarkan dan membuka mata masyarakat dan bahkan komunitas internasional.

BEBERAPA KORBAN KEJAHATAN COCA-COLA

Daftar para pekerja di pabrik-pabrik pembotolan Coca-Cola di Kolombia yang dengan sengaja di bunuh sejak tahun 1989. Terdapat lebih banyak lagi para pekerja Coca-cola berserta para anggota keluarganya yang menjadi korban penculikan,penahanan secara illegal,serta penyiksaan yang dilakukan oleh pasukan paramiliter sewaan Coca-cola

Tanggal Nama Pabrik

1989 Avelino Chicanoy Pasto

4/8/94 Jose Eleasar Manco David Carepa

4/20/94 Luis Enrique Giraldo Arango Carepa

4/23/95 Luis Enrique Gomez Granado Carepa

12/5/96 Isidro Segundo Gill Carepa

12/26/96 Jose Librado Herrerra Osorio Carepa

6/21/01 Oscar Dario Soto Polo Monteria

8/31/02 Adolfo Munera Lopez Baranquilla

Note:Kesemua korban pembunuhan yang tertulis diatas merupakan para petinggi serikat pekerja dari kecuali Jose Librado.


[1] Istilah yang dipakai organisasi yang menentang kekerasan dan pengexploitasian kemanusiaan terhadap pekerja The Coca-Cola Company . istilah ini juga dipakai sebagai nama website organisasi tersebut . www. killercoke. com

[3] http://www. thecoca-colacompany. com/heritage/chronicle_birth_refreshing_idea. html

[5] http://xroads. virginia. edu/~class/coke/coke1. html

[6] Mark Pendergrast (2000). For God, Country and Coca-Cola. Basic Books. ISBN 0-465-05468-4.

[7] Mark Pendergrast (2000). For God, Country and Coca-Cola. Basic Books, 41 – 45

[8] http://home. comcast. net/~collectiblesodacans/Cokepg1. htm

[9] http://209. 85. 173. 104/search?q=cache:M1zsyxMp8bUJ:siskautari. blogspot. com/2004/04/coca-cola-story-hai. html+coca+cola+kasus+buruh&hl=id&ct=clnk&cd=2&gl=id

[10] http://209. 85. 173. 104/search?q=cache:ZZbmJ2dJy0YJ:nubiennes. wordpress. com/2007/12/24/most-wanted-corporate-human-rights-violater-an-opening-eye/+coca+cola+kasus+buruh&hl=id&ct=clnk&cd=3&gl=id

[11] http://209. 85. 173. 104/search?q=cache:VCuurUMQ4vcJ:www. therationalradical. com/dsep/coca-cola-colombia. htm+Coca+Cola+Kolombia&hl=id&ct=clnk&cd=2&gl=id

[12] http://72. 14. 235. 104/search?q=cache:xxEZFEUNNpwJ:www. asianfoodworker. net/tnc/iuf-cc-bi2. htm+coca+cola+kasus+hak+asasi+manusia&hl=id&ct=clnk&cd=2&gl=id

[13] Serikat Buruh untuk Idustry Pangan dan Minuman di Kolombia

[14] Pasukan paramiliter sewaan Coca-cola adalah angkatan sayap kanan yang penuh dengan kekerasan,gabungan dari pada tentara dan tukang pukul bayaran. Coca-Cola menugasi mereka untuk “melindungi” para pekerja pabrik dari kelompok-kelompok sayap kiri militan yang mungkin saja menganggap bahwa pabrik-pabrik tersebut merupakan symbol globalisasi

[15] Isindro Gill merupakan seorang anggota dewan eksekutif serikat pekerja,dan anggota dari Sinaltrainal,yaitu serikat pekerja industry makanan nasional di Kolombia

[16] Sinaltrainal adalah serikat pekerja industri makanan nasional di Kolombia

Written by Tommy DMT

May 6, 2008 at 2:05 pm

Posted in Pengetahuan

Filsafat Politik J.J Rousseau

leave a comment »

State of nature manusia dalam pandangan Rousseau

Rousseau berpendapat bahwa manusia mempunyai keadaan alamiah atau keadaan asli dalam dirinya sebagai suatu individu yang bebas atau merdeka tanpa adanya suatu intervensi atau paksaan dari manapun . meskipun mempunyai kebebasan yang mutlak , manusia tidak ingin atau memiliki keinginan untuk menaklukan sesamanya karena manusia alamiah bersifat tidak baik maupun tidak buruk. Mereka hanya mencintai dirinya sendiri secara spontan dan berusaha untuk menjaga keselamatan dirinya dan memuaskan keinginan manusiawinya. .

Menurut Rousseau , manusia abad pencerahan sudah mengubah dirinya menjadi manusia rasional . manusia rational hanya mementingkan factor material untuk memenuhi kebutuhan dirinya . factor-faktor non-materail berupa perasaan dan emosi mengalami pengikisan yang berakibat manusia seolah-olah hanya bergerak menurut rasionya saja.. Abad Pencerahan menurut Rousseau adalah abad pesimisme total. Pemikir-pemikir pencerahan, perkembangan teknologi dan sains menyebabkan dekadensi moral dan budaya .Akibatnya, manusia menjadi rakus dan tamak sehingga terjadi kerusakan dan penghancuran besar-besaran bagi keberlangsungan manusia , baik itu alam maupun manusianya sendiri. Oleh sebab itu, Rousseau berpikir bahwa manusia seharusnya kembali pada kehidupannya yang alamiah yang memiliki emosi dan perasaan untuk mencegah dan terhindar dari kehancuran total. Pemikiran ini menjadi cikal bakal dari aliran Romantisme yang berkembang di eropa .

Kontrak Sosial dan Kekuasaan

Seperti yang dikemukakan Rousseau bahwa manusia memiliki kebebasan penuh dan bergerak menurut emosinya. Kedaaan tersebut sangat rentah akan konflik dan pertikaian . untuk menyelesaikan masalah tersebut , manusia mengadakan ikatan bersama yang disebut kontrak social.

Rousseau berpendapat bahwa negara merupakan bentuk nyata dari kontrak social.Individu-individu di dalamnya sepakat untuk menyerahkan sebagian dari hak-haknya untuk kepentingan bersama melalui pemberian kekuasaan kepada pihak-pihak tertentu diantara mereka. . kekuasaan tersebut digunakan untuk mengatur, mengayomi , menjaga keamanan maupun harta benda mereka . hal inilah yang kemudian disebut sebagai kedaulatan rakyat. Perbedaan teori kontak sosial dalam pandangan Hobbes dan Rousseau adalah Hobbes menyatakan bahwa setelah negara terbentuk sebagai suatu kontrak social, negara tidak terikat lagi dengan individu tetapi individulah yang terikat dengan negara dengan kata lain , negara dapat berbuat apa saja terhadap individu. Berbeda dengan Hobbes, Rousseau berpendapat bahwa negara adalah berasal dari kontrak social antara individu jadi negara merupakan representasi kepentingan individu-individu didalamnya , negara harus berusaha mewujudkan kehendak umum bila kehendak itu diabaikan oleh negara , rakyak dapat mencabut mandatnya terhadap penguasa.

Rousseau mendambakan suatu system pemerintahan yang bersifat demokrasi langsung dimana rakyat menentukan penguasa atau pemimpin mereka, membuat tata negara dan peraturan secara langsung . demokrasi langsung hanya dapat dilaksanakan pada wilayah yang tidak terlalu luas .

Bentuk-bentuk Pemerintahan

Menurut Roussau keanekaragaman pemerintahan di dunia adalah baik karena biasanya mengakomodasikan kepentingan beranekaragam bentuk , tradisi dan adat istiadat masyarakat yang berbeda-beda . Klasifikasi pemerintahan dan criteria tolak ukur negara menurut Rousseau dapat dilihat berdasarkan jumlah mereka yang berkuasa.

Bila kekuasaan dipegang oleh seluruh atau sebagian besar warganegara( citizen magistrates lebih banyak dari ordinary privat citizen), maka bentuk negara tersebut adalah demokrasi. Tetapi bila kekuasaan dipegang oleh beberapa penguasa ( ordinary privat citizen lebih banyak dari citizen magistrates) maka negara tersebut berbentuk aristokrasi . apabila negara tersebut hanya terpusat pada satu orang penguasa , maka negara tersebut berbentuk monarki.

Rousseau juga berpendapat bahwa mungkin nanti terdapat bentuk negara campuran yang memadukan system dan bentuk negara demokrasi , aristokrasi dan monarki.

Written by Tommy DMT

April 5, 2008 at 5:08 pm

Posted in Pengetahuan

Tagged with

The Extremist of Liberalism Vs The Extremist of Islam

leave a comment »

Entah dari mana saya mendapatkan istilah ini , tetapi pada intinya adalah merujuk pada film “FITNA” yang sedang Booming di seantero dunia . the Extremist of liberalism saya tujukan kepada sang pembuat film , monseiur wilder geertz yang berhasil membuat sensasi luar biasa atas filmya tersebut tentang islam yang mengijinkan kekerasan . padahal , dalam filmya tersebut geertz hanya men”comot” penggalan ayat-ayat qur’an dan hanya memandang dari sudut pandang islam-islam garis keras yang disini saya istilahkan sebagai the Extremist of Islam.

Dalam filmya itu , entah disadari atau tidak , menyatakan bahwa ia adalah seorang yang sangat mengagungkan kebebasan individu diatas segalanya. bahkan , untuk memperkuat argumentasinya tentang kebebasan , ia “mengorbankan” islam sebagai antek dari anti kebebasan dengan pembuatan filmya yang kontroversial itu . hasilnya , ia menjadi “world” enemy bukan lagi sebagai public enemy.

ke-extremistan wilder geertz akan liberlisme patut diwaspadai , mengingat pada masa ini , kita tidak lagi berhadapan dengan benturan-benturan ideologi seperti pada perang dingin ,tetapi pada masa dimana peradaban-peradabanan ( baca :kebudayaan) mulai memunculkan taringnya . benturan peradaban barat yang mengagung-agungkan liberalisme ini mendapat tantangan keras dari peradaban islam yang mulai berkembang diseluruh dunia dengan sangat pesat . terlebih , jika para extremist kedua peradaban itu mulai menggaungkan propoganda mereka . perang antar peradaban sangat mungkin terjadi dan dampaknya . mungkin lebih menakutkan dari perang dunia ke-2.

saya tidak memihak kedua kelompok tersebut dalam tulisan ini . bagi saya , kelompok-kelompok yang bersifat extemist tidak akan pernah membawa suatu perdamaian dalam segala keadaan . karna mereka hanya melihat dari satu sudut pandang saja bukan lagi melihat manfaat yang bisa didapat.

Para Extremist liberalisme memandang manusia tidak boleh dikekang dan dapat melakukan apa yang dikehendakinya tanpa mendapat ancaman / hambatan dari orang lain . apakah hal ini baik ? dilihat pada satu sisi , memang pendapat ini memihak pada kebebasan individu . tetapi apa yang terjadi adalah kebebasan yang tanpa batas / tanggung jawab adalah penyebab rusaknya moral dari manusia itu sendiri. saya ambil contoh film fitna Wilder geertz . film ini menyatakan sebagai wujud dari kebebasan untuk berpendapat . tetapi , pendapat yang dikeluarkan melalui film ini merusak martabat dan peradaban bangsa lain . apakah kebebasan seperti itu yang kita inginkan . kebebasan yang tidak lagi memiliki etika dalam berpendapat. untuk saya pribadi , kebebasan seperti itulah yang menyebabkan kehancuran .

begitu pula dengan para extremist islam . mereka terus meneriakkan slogan dan protes untuk menangkap wilder geertz bahkan salah satu ormas islam diindonesia sudah menyatakan bahwa wilder geertz layak untuk ditumpahkan darahnya sebagai akibat menghina “Allah” sambil melakukan tindakan-tindakan yang menurut saya tidak layak untuk organisasi yang berbasis keagamaan. dengan pernyataan tersebut saja , mereka sudah menunjukan ” kekalahan” mereka terhadap wilder geertz . mereka secara tidak langsung mengakui bahwa yang dikemukakan oleh geertz tersebut adalah benar .

tindakan seperti itu bukanlah cara yang baik dan elegan untuk mengemukakan protes dan pendapat . mereka seharusnya melakukan protes dengan damai dan dialog dengan melakukan dialog bukan dengan mencoba sweeping orang-orang barat apalagi mengancam untuk membunuh. meskipun saya bukanlah seorang muslim , tetapi sepengetahuan saya , islam bukanlah agama yang menganut paham kekerasan dan anarki seperti kelompok yang saya sebutkan diatas tetapi menganut cara-cara “elegant” dalam menyelesaikan perkara .

melalui tulisan ini , saya hanya mengingatkan bahwa suatu paham yang berlebihan / extrem tidak pernah bersifat baik . karna hanya melihat kebenaran dari satu sudut pandang saja dan menutup mata pada sudut pandang lain . padahal , selama kita hidup didunia ini , kebenaran mutlak tidak akan pernah kita dapatkan. oleh karna itu , toleransi antar manusia sangat perlu di pelihara dan di tingkatkan ditengah probematika dunia yang semakin kompleks.

Written by Tommy DMT

April 5, 2008 at 3:28 pm

Posted in Politic

Tagged with ,