Archive for September 2010
CIN(T)A : SEBUAH REVIEV TUHAN SANG ARSITEK DAN DIRECTOR
CIN(T)A, Film Indie yang diproduseri sembilan matahari dan disutradrai oleh Sammaria Simanjuntak berhasil membawa nuansa baru perfilman Indonesia yang belakangan banyak dipenuhi oleh film-film horor dan percintaan yang melankolis. meskipun tetap mengambil tema percintaan, CIN(T)A menawarkan suatu hal baru yang menekankan nilai-nilai filosofis tentang kehidupan, Cinta, dan Tuhan.
Film ini secara khusus menceritakan tentang bagaimana dua orang yang berbeda agama dan suku saling mencintai tetapi terpisahkan oleh perbedaaan mereka dalam menyembah dan menyebut Tuhan yang mereka berdua juga cintai. Perbedaan – perbedaan mereka ini di sarikan dalam dialog-dialog yang berbau filosofis mengenai Tuhan, agama dan Cinta itu sendiri. Inti dari Film ini terdapat pada dialog ringan kedua tokohnya mengenai apakah Tuhan dapat diumpamakan sebagai Arsitek atau sebagai seorang sutradara ( director). Disadari atau tidak, film ini mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Tuhan sebagai seorang arsitek adalah tuhan yang menciptakan semua ciptaannya dengan bentuk, corak, warna dan ukuran yang tepat. Meskipun melalui proses yang panjang dan berat tetap semuanya pasti baik dan Indah pada akhirnya sehingga manusia (ciptaanya) tidak perlu bertanya-tanya apa maksud Tuhan dalam kehidupannya karena Dia pasti akan memberikan yang terbaik kepada ciptaannya dengan perhitungan yang cermat dan tepat layaknya arsitek. Tuhan sebagai arsitek inilah yang dipercayai tokoh utama laki-laki, CINA, dalam Film ini. Dia berpikir bahwah Tuhan menciptakan segala sesuatu baik pada akhirnya. segala perbedaan diciptakan untuk kita dapat bersatu. ini dituangkan dengan ungkapannya “United In Diversity”. Tuhan menciptakan perbedaan-perbedaan itu agar Ia ingin disembah dengan berbagai cara dan panggilan/ nama. oleh karena itu dia menciptakan apa yang diumpamakan “Arsitektur kampung kota” dalam film tersebut. tempat orang-orang dari segala lapisan, golongan, suku, dan agama berkumpul dalam suatu komunitas tanpa mempersoalkan apa latar belakang mereka.
Sedangkan Tuhan sebagai Director adalah Tuhan yang mengendalikan Ciptaan-ciptaannya sesuai dengan kehendaknya dan keinginannya. Tuhan sebagai Sutradara memberikan essensi dari ciptaannya untuk kesenangannya semata. Ke-Esa-annya sebagai pengatur memberikannya berbagai pilihan bagaimana kisah-kisah dalam “film”nya harus diakhiri. apakah berakhir “happy ending” atau “bad ending”. hal itu adalah authoritasnya sebagai sutradara. Tuhan yang seperti inilah yang dipercayai oleh Annisa, tokoh utama perempuan dalam film ini. Latar belakangnya sebagai Artis yang di Cap “gagal’ oleh orang – orang disekitarnya hanya karena bermodalkan kecantikan, Ayahnya yang telah meninggal serta ibunya yang kawin-cerai yang diberitakan oleh media secara luas juga meninggalkan luka yang dalam bagi kehidupannya. terlebih ketika sang ibu mencoba untuk menjodohkan dirinya ke seorang lelaki Cina tua yang juga kaya raya dan seagama dengannya. Hal-hal tersebut yang membuatnya merasa bahwa dirinya bukanlah dirinya tetapi Tuhan yang mengendalikannya melalui orang-orang terdekatnya. otonominya sebagai seorang manusia hanyalah ilusi semata.
Pertarungan Filosofis antara kedua tokoh tersebutlah yang memberikan warna khusus dan keunikan dari film ini. Annisa yang kemudian “berteman dekat” dengan CINA secara perlahan-lahan mulai masuk kedalam dunia filosofsi CINA tentang TUHAN, Cinta, Keberagaman dan tentu saja “akhir yang indah”. Tetapi pada klimaksnya, semua romantisme itu kembali sirna ketika tragedi BOM di Gereja-gereja tahun 2000 terjadi. CINA, yang mempercayai bahwa Tuhan pasti menciptakan makhluk-makhluknya untuk suatu tujuan yang Indah mulai kehilangan pijakannya. penilaiannya tentang Tuhan berubah drastis. Tuhan dinilainya hanya sebagai konsep yang hanya menimbulkan pertikaian, perang dan kehancuran diantara umat manusia. bahkan disatu sisi, digambarkan CINA yang mulai mencoba menampikkan adanya Tuhan dalam hidupnya dengan menjadi atheis. Kecintaannya terhadap Tuhan hilang. Ia hanya mempercayai Cintanya terhadap Annisa.
Perubahan-perubahan didalam diri CINA lah Annisa kembali meragukan filosofi Tuhan sang arsitek. Ia kembali kenilai-nilai filosofis Tuhan sebagai Director sebagaimana yang dipercayainya. Ia Menikahi laki-laki pilihan ibunya. di akhir cerita, CINA juga melihat bahwa semua yang dilakukan Tuhan adalah sesuai dengan yang diinginkannya sebagai sang Director. Ia melihat bahwa ke-Esa-annya bukan terletak pada keindahan dan kebaikannya saja, tetapi juga terhadap kejahatan dan keburukannya. Tuhan adalah sutradara terbaik dan terburuk. GOD IS A DIRECTOR.
AMIN ?
Terlepas dari cerita tersebut. film ini merupakan sebuah batu pijakan untuk membawa kembali filsafat keranah publik. Film ini diharapkan mampu menciptakan kembali perdebatan-perdebatan filosofis tentang makna Tuhan, Cinta dan Keberagaman dalam beragama yang semakin mengering dihempas angin fantatisme sempit di Indonesia yang terasa menguat akhir-akhir ini.
Owner Influence and Media Competition: Small note on Metro Tv vs. TV One
For years, Metro TV has dominated the one and only channel news program in Indonesia. However, for the last two years, TV One has shown up to produce and broadcast news. The establishment of TV One has become a serious competitor to Metro TV in providing news channel in Indonesia’s television Industry.
As the similar channel news program, both channels are competing each other to provide actual, accurate and credible news. It is interesting how they try to persuade the viewer to watch their channel. They try to produce something different in broadcasting news in order to take viewer segmentation in news channel. TV One as new comer channel news has to develop different, fresh and unique news program to compete with ‘grown up’ channel news TV, Metro TV. Therefore, observing both channels will give us better understanding the difference between those two.
Having watched both channels lately, there are several fundamental things which differentiate them. Understanding the owner of the channel does matter to compare both channels. It is widely known that Metro TV is owned by Surya Paloh, leading media industry entrepreneur, while Aburizal Bakrie establishes TV One. Both of them were competing to lead Golkar Party which was won by Bakrie, recently. Apparently, the competition is not only occurred within the Forum but also spreading to the media they owned.
Metro TV in its publication tends to cornering Aburizal Bakrie especially when it touches Lapindo’s case. Metro TV is highly blaming the mud case to Lapindo Brantas messy exploitation and gives attention to the victim that has been ignored by the company. Metro TV usually called the case as ‘Lapindo Mud’ ( Lumpur Lapindo) that is directly referred to the company. On the contrary, the publication of TV One is quite different when the Lapindo case appears. TV one tends to avoid the case by keeping the issue low profile. Nonetheless, when it has to publish the news, the publication tends to blame on natural disaster and the government should have provided aids to the victims. It also called the case as Sidoardjo Mud (Lumpur Sidoardjo) which is referred to the geography.
Bakrie even has sentimental view on Metro TV. He directly refused to answer the question from Metro TV reporter when he was interviewed after the seminar event held by Golkar. Meanwhile, TV One is widely published the demonstration of papandayan hotel workers regarding the unpaid wages. Papandayan hotel in bandung is owned by Surya Paloh. Oh the other side, Papandayan’s case is only low issue in Metro TV. from this point, there are tendency that TV One and Metro TV is being used on behalf of its owner to spread their influence and spoil the other.