Pendahuluan
Globalisasi Menjadi trend baru setelah berakhirnya era perang dingin . setelah “kemenangan” paham demokratis melawan komunis, globalisasi secara tidak langsung menjadi suatu paham untuk tatanan dunia baru yang paling baik diterapkan pada abad 21 . Efek globalisasi dapat dirasakan dalam bidang perekonomian. Globalisasi memunculkan era baru yang dinamakan kapitalisme dalam bidang ekonomi dimana para pengusaha membangun perusahaannya dengan kekuatan modal yang besar yang mampu melewati batas-batas negara dengan berinvestasi di negara lain. Khusunya dinegara yang menyediakan sumber-sumber daya yang murah yang adalah negara-negara miskin dan berkembang
Perusahaan-perusahaan tersebut awalnya hanya bersifat lokal atau nasional , tetapi dengan strategi yang baik dan memanfaatkan peran dari media sebagai cara penjualan produknya , perusahaan-perusahaan tersebut berkembang sangat pesat dan mulai mengepakkan sayapnya kenegara-negara lain sebagai sasaran investasi maupun pemasaran . perusahaan seperti itu dinamakan MNC (Multi National Corporation) dalam dunia ekonomi.
Pada sisi , kapitalisme memang dapat menghasilkan keuntungan bagi negara dan MNC . Negara akan diuntungkan dengan penerimaan pajak dan terserapnya tenaga kerja yang dapat mengurangi angka pengangguran dan perusahaan mendapatkan keuntungan melalui pemberdayaan sumber daya yang tersedia dinegara tersebut dan atau pemasaran ke negara tersebut. Tetapi, permasalahan terjadi ketika negara menjadi sangat tergantung kepada MNC tersebut . Negara, disadari atau tidak , akan melonggarkan kontrol terhadap perusahaan. Akibatnya adalah perusahaan dapat melakukan perilaku tak-etis dalam menjalankan industrinya. Yang sering terjadi adalah perusahaan mulai mengeksploitasi para pegawainya/ tenaga kerjanya dan sumber-sumber daya lainya tanpa mematuhi prosedur yang berlaku dan sudah ditetapkan sebelumnya.
Kasus Pengeksploitasian sumber daya besar-besaran oleh MNC banyak sekali terjadi didunia, khususnya pada negara-negara dunia ketiga dan seringkali luput oleh pemberitaan media. Kelompok kami mengambil contoh pada perusahaan Coca-Cola Company yang menjadi salah satu Leading Brand di bidangnya yang memproduksi minuman cola bersoda yang sudah dikenal diseluruh dunia. Dibalik nama besarnya itu, Coca-Cola memiliki masalah kemanusiaan dalam memperlakukan para pekerjanya dan lingkungan.
Masalah tersebut mulai terungkap secara luas oleh media massa sejak peristiwa penembakan Serikat buruh oleh Perusahaan Minuman Coca-Cola Company yang akhirnya mendapat perhatian dunia yang mengecam Coca-Cola bahkan berusaha untuk memboikot produknya . Melalui Kasus ini , kami berusaha menjawab 3 pertanyaan besar dari kasus tersebut. Pertanyaan tersebut menyangkut bagaimana sebenarnya perlakuan The Coca-Cola Company terhadap para buruhnya, bagaimana peranan media dalam mengungkapkan krisis kemanusiaan yang dilakukan oleh Coca-cola company serta apakah peristiwa tersebut merupakan cerminan dari Globalisasi ekonomi yang diusung negara barat .
Coca-Cola , Produk Apotik Lokal yang Mendunia
Coca-Cola pertama kali ditemukan di Colombus , Georgia , Amerika Serikat oleh seorang ahli farmasi , John Stith Pemberton . Coca-Cola yang dikenal sekarang ini awalnya merupakan Wine Cola[2] atau minuman anggur berkola yang di buat oleh Pemberton pada tahun 1885 .
Di tahun 1886 , ketika negara bagian Atlanta melarang peredaran alkohol , Pemberton meresponnya dengan pengembangkan Coca-Cola , yang secara mendasar adalah minuman berkarbonasi dan non- alkohol atau versi wine cola tetapi tanpa alkohol .
Penjualan pertama Coca-Cola adalah pada tanggal 8 Mei 1886[3] di Jacob’s Pharmacy . Atlanta , Georgia . Coca-Cola di jual dengan harga 5 sen[4] sebagai salah satu obat yang sudah dipatenkan. Pemberton berargumen bahwa Coca-Cola dapat menyembuhkan banyak penyakit termasuk ketergantungan morphine , depresi , pusing dan impotensi. Pada tanggal 29 Mei ditahun yang sama , Pemberton mulai mengiklankan produknya sebagai minuman ringan yang diterbitkan oleh Atlanta Journal[5], media massa lokal di tempatnya tinggal.
Pada1888 , tiga jenis Coca-Cola dilemparkan kepasaran. Ketiga produk Cola tersebut dijual oleh tiga perusahaan yang berbeda. Berawal dari pembelian saham perusahaan cola Pemberton oleh Asa Griggs Candler ditahun 1887 dan bergabung menjadi Coca-Cola Company ditahun 1888[6]. Pada yang sama , Pemberton juga menjual “saham”nya kembali kepada pebisnis yang dipimpin J.C Mayfield karena kesulitan dana akibat ketergantungannya kepada morphine. Sementara anak Pemberton yang mengetahui formula pembuat Coca-Cola juga menjual versinya sendiri[7]
Untuk meluruskan kerancuan tersebut, John Pemberton mengumumkan bahwa merek dagang dari Coca-Cola Company menjadi hak milik anaknya, Charley Pemberton , tetapi kedua perusahaan yang lain dapat menggunakan formulanya. Setelah kejadian tersebut , Candler menjual minuman ringanya dengan nama Yum-Yum dan Koke tetapi keduanya kurang mendapat respon baik dimasyarakat sehingga Chandler berusaha memperoleh hak secara legal dengan membeli hak eksklusif Coca-Cola dari John Pemberton sebagai upaya mematikan kedua pesaingnya tetapi upaya tersebut banyak menuai persoalan.
Sengketa kepemilikan nama Coca-Cola Company berakhir setelah Chandler memenangkan kasus tersebut dan membangun kembali The Coca-Cola Company pada tahun 1892. Setelah kemenangannya tersebut, Chandler mulai aktif mengiklankan produknya dengan cara-cara unik dan inovatif . ditahun 1894 Coca-Cola dijual pertama kali dalam kemasan botol dan Kemasan kaleng dipasarkan kemudian pada tahun 1955[8] . Karena selalu mengikuti selera pasar dengan didukung cara periklanan yang Inovatif , Coca-Cola berkembang sangat pesat dan menyebar keseluruh dunia..
The Killer Coke

Istilah Killer Coke mulai dipakai saat The Coca Cola Company di Kolombia diprotes besar besaran oleh sejumlah LSM internasional karena dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat di Kolombia. Bermula dari pengaduan asosiasi buruh Kolombia yang bernama Sindicato Nacional de Trabajadores de la Industria de Alimentos (National Syndication of Food Industry Workers) atau SINALTRAINAL, yang mengatakan bahwa telah terjadi pelanggaran hak pekerja di perusahaan pengemasan atau lebih tepatnya pembotolan Coca Cola di Bucaramanga, Kolombia. Pekerja di perusahaan tersebut bekerja dalam waktu kerja yang lebih panjang dari yang diatur oleh undang undang setempat dan dibayar dengan upah yang sangat kecil ( sebagai perbandingan di Indonesia buruh Coca Cola hanya digaji Rp 150. 000,00 perbulan[9] ). Di Kolombia pada tahun 1989-2002 sudah ada 8 orang tewas akibat eksperimen produk[10] yang membuktikan sangat sedikitnya ( bahkan dapat dikatakan tidak ada ) kepedulian Coca Cola akan keselamatan pekerjanya.
Selain itu yang lebih mengerikan pekerja tersebut bekerja dibawah tekanan paramiliter bersenjata yang mengawasi mereka dan tidak ragu untuk menggunakan senapannya bila ada pekerja yang melakukan kesalahan atau dengan kata lain Coca cola menggunakan tenaga paramiliter untuk mengintimidasi bahkan membunuh secara diam diam buruh yang berusaha melawan atau hanya sekedar memprotes manajemen untuk menaikan gaji. [11] Bahkan bukan hanya pekerja yang mengalami intimidasi,keluarga mereka pun juga akan menjadi sasaran penculikan bahkan pembunuhan bila mereka melakukan kesalahan fatal. Paramiliter diberitakan bekerja sama dengan Coca Cola untuk meningkatkan efisiensi perusahaan serta untuk menjaga agar tidak ada pekerja yang berani membocorkan aib perusahaan kepada dunia luar.
Para aktivis yang gencar menyuarakan hak hak buruh akan mendapat perlakuan buruk dan intimidasi dari paramiliter, seperti pada kasus Efrain Guerrero, seorang pemimpin Serikat Buruh lokal yang selalu diawasi dan dibuntuti oleh paramiliter bersenjata kemanapun ia pergi dan pada puncaknya 3 saudaranya ditembak di rumahnya pada April. Kasus lainnya, seorang pengurus serikat buruh William Mendoza yang mengatakan bahwa paramiliter telah menculik dan membunuh anak perempuannya yang berumur 4 tahun. Dia percaya ia menjadi target karena pada tahun 2003 dia mengungkapkan adanya kolusi finansial antara paramiliter dan manajemen perusahaan Coca Cola.
Coca Cola telah beroperasi di Kolombia lebih dari 70 tahun.saat dimintai pertanggungjawaban pihak Coca Cola berkelit bahwa perusahaan pembotolan di Bucaramanga bukanlah milik Coca Cola yang bermarkas di Atlanta melainkan adalah milik perusahaan Meksiko Coca Cola FEMSA, dimana di perusahaan tersebut (FEMSA) Coca Cola “hanya” memiliki saham sebesar 47 % dan secara hukum menurut perjanjian yang telah disepakati antara Coca Cola dan FEMSA sebelumnya, Coca Cola tidak bertanggung jawab pada buruh yang ada di Bucaramanga, Kolombia. Selain itu Coca Cola mengatakan bahwa tidak mengetahui adanya paramiliter di dalam pabriknya di Kolombia ( suatu hal yang aneh mengingat Coca Cola merupakan salah satu perusahaan ternama yang bersikeras menerapkan kontrol dan standar kerja yang sesuai dengan kebijakan perusahaan, yang berarti adanya kontrol rutin dari Coca Cola ke seluruh pabrik yang memegang lisensi produk Coca Cola ).
Karena kuatnya dorongan masyarakat internasional terutama LSM yang bergerak dalam bidang kemanusiaan dan hak asasi manusia, untuk mengusut dugaan pelanggaran HAM di Kolombia, pihak dari Coca Cola akhirnya bertemu langsung dengan IUF sebagai sebuah lembaga perwakilan internasional dari buruh yang terorganisir di seluruh dunia termasuk banyak buruh yang bekerja di perusahaan Coca-Cola pada tanggal 15 Maret 2005. Perusahaan Coca Cola sepakat bahwa perwakilan senior dari perusahaan Coca Cola akan bertemu dengan sebuah tim dari perwakilan IUF dan affiliasi-afiliasinya dua kali setahun dan bahwa management hubungan perburuhan senior akan melakukan komunikasi terus-menerus dengan IUF antara pertemuan tersebut. Coca Cola juga menyetujui bahwa buruh Coca Cola berhak untuk menjalankan hak-haknya untuk menjadi anggota serikat buruh dan melakukan perundingan secara kolektif tanpa tekanan atau campur tangan. Hak-hak tersebut dilakukan tanpa rasa takut atas tindakan balasan, penindasan ataupun bentuk diskriminasi lainnya.[12]
Sebenarnya protes kepada perusahaan Coca Cola tidak hanya terjadi di Kolombia terutama karena kecilnya upah yang diberikan pada pekerjanya. Di India banyak orang berdemonstrasi sebab limbah Coca Cola merusak perairan sehingga membahayakan penduduk yang hidup dari meminum air tersebut. Coca Cola juga terkenal sebagai salah satu perusahaan paling diskriminatif di banyak pabriknya di Amerika, sehingga salah satu akibatnya terjadi demonstrasi kaum african-american untuk menuntut gaji yang sama besarnya dengan pekerja kulit putih pada tahun 2000.
Peran Media dalam mengungkapkan kasus Killer Coke
SINALTRAINAL[13] yang gencar meneriakkan keadilan melalui berbagai macam cara, salah satunya dengan membuat situs killer coke dan dukungan berbagai macam LSM internasional seperti IUF, ditambah dengan peran media telah membuahkan sebuah laporan investigasi seperti berikut :
Kolombia menjadi salah satu contoh negara yang menjadi model penggunaan kekerasan yang ekstrim akibat dari neoliberal globalisasi. Berbagai macam organisasi terkenal di Kolombia banyak yang menggunakan tindakan kekerasan seperti para pekerja yang dibunuh akibat menentang rencana dari investor.
Coca-Cola melalui cabanganya di Kolombia yaitu PANAMCO SA dan Bebidas y Alimentos de Urabá SA melakukan perperangan terhadap masyarakat sipil di Kolombia. Selama 10 tahun 8 orang pemimpin perserikatan pekerja di industry telah di bunuh. Dua di antaranya diasingkan,dan lebih dari 48 orang menderita akibat dipisahkan.
Selain itu aktivitas para pekerja di awasi oleh paramiliter[14] yang dilengkapi dengan persenjataan. Mereka memaksa para pekerja. Paramiliter juga melayani perusahaan multinasional dan melayani aktivitas yang tidak sah dari perusahaan tersebut seperti:memaksa para pemimpin perserikatan,memaksa pekerja,membatalkan persetujuan perundingan/perjanjian,memaksa para pekerja untuk menyerahkan kontrak kerja mereka dan mereka memberikan gaji yang rendah serta mengancam akan banyaknya pekerja yang baru yang akan memasuki pekerjaan mereka. Kebijakan tenaga kerja yang di lakukan Coca-Cola merupakan usaha untuk meningkatkan hasil dan labanya.
Sehingga para Serikat buruh seluruh dunia meluncurkan suatu boikot terhadap produk Coca-Cola karena perusahaan tersebut menggunakan kelompok yang bersifat kemiliteran/paramiliter untuk menakut-nakuti,mengancam dan membunuh para pekerjanya di Kolombia. Perserikatan Coca-Cola di Kolombia menyewa far-right atau AUC (United Self Defence Forces of Kolombia) untuk membunuh 8 anggota perserikatan pekerja pada pabrik pembotolan Coca-Cola di Kolombia 18 tahun yang lalu.
Tujuh tahun yang lalu,the Kolombian food and drink union SINALTRAINAL menggugat Coca-Cola dan orang Kolombia yang bekerja di pabrik pembotolan di pengadilan di Miami atas kematian pekerja di pabrik Coca-Cola. Mereka menuduh paramiliter memanfaatkan kekuatannya untuk melakukan hal-hal ekstrim seperti membunuh,menyiksa,dan menangkap para pekerja yang membocorkan rahasia tersebut.
Javier Correa,Presiden Sintaltrainal mengatakan bahwa kampanye tersebut diadakan untuk mengurangi penderitaan para pekerja yang menderita sejak bekerja di pabrik Coke.
Javier Correa menyuarakan bahwa:”kami menginginkan keadilan. Kami ingin agar orang-orang mengetahui kebenaran tentang apa yang terjadi dengan para pekerja Coca-cola di Kolombia. Sekarang kau sudah mengetahuinya,maukah kau membantu kami?”.
Hingga hari ini,Sinaltrainal masih melanjutkan perjuangannya melalui kampanye melalui media yaitu “Killer Coke”-nya (www. killercoke. org) dan menyerukan pemboikotan global atas Coca-Cola.
Akan tetapi pihak dari Coca-Cola menyatakan bahwa statement tersebut tidak didasari dengan bukti yang kuat dan menganggap bahwa kampanye yang dilakukan tersebut adalah sesuatu usaha yang tak tau malu yang hanya bertujuan untuk publisitas.
Masalah Coca-cola di media luar negri sangat terkenal sedangkan media local tidak mencantumkan masalah kampanye yang dilakukan oleh pekerja Coca-Cola. Di Kolombia kasus ini sangat sulit di cantumkan di media local karena semua hal tersebut merupakan kultur kebebasan dari hukuman.
Kasus yang telah berlangsung 18 tahun ini masih belum bisa di selesaikan dan terpecahkan.
Peristiwa pemboikotan Coca-Cola di Kolombia ini memuncak pada pagi hari tanggal 5 Desember 1996,dua anggota pasukan paramiliter local mengendarai sepeda motor menuju sebuah pabrik pembotolan milik Coca-Cola di Carepa,Kolombia Utara. Tepat di pintu gerbang pabrik,mereka melepaskan 10 tembakan peluru ke arah seorang pekerja yang bernama Isindro Segundo Gill[15] hingga tewas. Isindro Gill merupakan seorang anggota dewan eksekutif serikat pekerja,dan anggota dari SINALTRAINAL, yaitu serikat pekerja industry makanan nasional di Kolombia. Luis Adolso Cardona, seorang pekerja lainnya yang sedang bekerja,menjadi saksi pembunuhan tersebut. Saat mendengar tembakan pistol dan melihat tubuh Isidro Gill ambruk, Cordona langsung berlari untuk menyelamatkan, namun Isidro telah meninggal dunia.
Beberapa jam kemudian paramiliter berusaha untuk menangkap Cordona tetapi Cordona berhasil melarikan diri menuju kantor polisi. Mendekati tengah malam,sekelompok anggota pasukan paramiliter mendatangi sebuah rumah yang digunakan sebagai kantor serikat pekerja local,mereka mengobrak-abrik dan membakar tempat tersebut. Keesokan harinya,sepasukan paramiliter mendatangi pabrik dimana Isidro terbunuh. Disana mereka mengumpulkan sebanyak 60 pekerja,yang juga aktif dalam serikat pekerja dan mengancam untuk segera menandatangani surat pengunduran diri dari serikat yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh manager pabrik. Kelompok para militer tersebut juga mengancam kalau para pekerja tidak menandatangani surat tersebut sebelum pukul empat sore,maka ke 60 pekerja tersebut akan dibunuh. Sehingga tidak ada kata lain ke 60 aktivis serikat itu menandatangani surat pengunduran diri dari serikat, sementara sebagian dari mereka baahkan mengundurkan diri dan berpindah kota.
Selama dua bulan pasukan militer mendiami posko-posko penjagaan di sekitar pabrik-pabrik pembotolan Coca-Cola. Coca-Cola membatalkan kontak kerja hampir seluruh pekerjanya,termasuk mereka yang tidak pernah terlibat dalam aktivitas serikat pekerja. Pekerja yang berpengalaman dihargai $ 380 per bulan,dan digantikan dengan pekerja baru dengan upah $130 per bulan.
Isidro Segundo Gill yang berumur 27 tahun,sudah bekerja selama 8 tahun di pabrik Coca-Cola. Istrinya Alcira Gill, meminta pertanggung jawaban Coca-Cola atas kematian suaminya. Namun,yang didapat oleh Alcira jauh dari memuaskan. Pada tahun 2000 ia di bunuh oleh pasukan paramiliter meninggalkan dua anaknya yang yatim piatu.
Miami, AS pada bulan Juli 2001. Sinaltrainal[16] sebagai representasi para buruh perbotolan Coca-Cola di Kolombia bersama-sama dengan organisasi advokasi asal DC The International Labor Rights Fund (ILRF),United Steelworkers of America,keluarga Isidro Gil dan 5 orang pekerja yang mengalami penculikan dan penyiksaan,mengajukan gugatan terhadap Coca-cola dan perusahaan pembotolan di Kolombia:Panamerican Beverages,atas kematian Isidro Gill. Mereka juga menuntut pertanggung jawaban atas kekerasan yang terjadi di pabrik-pabrik pembotolan di Kolombia yang melibatkan paramiliter dalam pabrik untuk secara sistematis melakukan intimidasi,penculikan,penahanan dan pembunuhan terhadap para pekerja. Tentu saja Coca-cola menyangkalnya.
Para hakim pun berpendapat bahwa tidak ada satu tuntutan pun yang dapat memberatkan Coca-Cola atas terbunuhnya Isidro Gill bersama ke 7 aktivis lainnnya dan berbagai praktek kekerasan di pabrik-pabrik pembotolan. Pada akhir Maret 2003,semua tuntutan yang dijatuhkan kepada para tersangka pun akhirnya di cabut oleh hakim yang berwenang dengan berbagai alasan seperti:pembunuhan tersebut tidak terjadi di America Serikat dan sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan Coca-Cola yang berada di Atlanta.
Seorang hakim federal bernama Jose E. Martinez mengizinkan agar perkara ini dilanjutkan terhadap dua perusahaan pembotolan milik coca cola di Kolombia:Femsa dan Panamerican Beverages,tetapi bukan Coca-Cola secara langsung. Namun,pada 4 September 2006 Jose E. Martinez membebaskan ke dua perusahaan tersebut dari semua tuntutan.
Seharusnya kita semua dapat belajar dari banyak kasus yang terjadi di sepanjang sejarah ,bahwa hukum diciptakan untuk melindungi kepentingan capital serta sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan. Seperti Korporasi Multinational lainnya yang memegang kendali atas pemerintahan sebuah negara, Coca-Cola bertujuan untuk memegang kendali sepenuhnya atas manufaktur serta distribusi produknya keseluruh penjuru dunia dan mengumpulkan keutungannya,tapi menolak untuk bertanggung jawab atas setiap dampak yang ditimbulkannya. Kalau pun ada bukti bahwa perusahaan bertindak di luar “hukum” maka seperti biasa alasan yang digunakan adalah:”itu adalah tindakan oknum,bukan kami”
Melalui kasus ini media-media mulai membuka mata terhadap kejahatan bisnis yang dilakukan oleh Coca Cola Company bahkan majalah internasional TIME pernah membahas secara khusus kasus yang terjadi di Kolombia tersebut. Hal ini membuktikan bahwa media berperan penting terutama dalam menyadarkan dan membuka mata masyarakat dan bahkan komunitas internasional.
|
[1] Istilah yang dipakai organisasi yang menentang kekerasan dan pengexploitasian kemanusiaan terhadap pekerja The Coca-Cola Company . istilah ini juga dipakai sebagai nama website organisasi tersebut . www. killercoke. com
[2] Hayes, Jack. “Coca-Cola Television Advertisements: Dr. John S. Pemberton
[3] http://www. thecoca-colacompany. com/heritage/chronicle_birth_refreshing_idea. html
[4] Harford, Tim (2007-05-11). The Mystery of the 5-Cent Coca-Cola: Why it’s so hard for companies to raise prices
[5] http://xroads. virginia. edu/~class/coke/coke1. html
[6] Mark Pendergrast (2000). For God, Country and Coca-Cola. Basic Books. ISBN 0-465-05468-4.
[7] Mark Pendergrast (2000). For God, Country and Coca-Cola. Basic Books, 41 – 45
[8] http://home. comcast. net/~collectiblesodacans/Cokepg1. htm
[9] http://209. 85. 173. 104/search?q=cache:M1zsyxMp8bUJ:siskautari. blogspot. com/2004/04/coca-cola-story-hai. html+coca+cola+kasus+buruh&hl=id&ct=clnk&cd=2&gl=id
[10] http://209. 85. 173. 104/search?q=cache:ZZbmJ2dJy0YJ:nubiennes. wordpress. com/2007/12/24/most-wanted-corporate-human-rights-violater-an-opening-eye/+coca+cola+kasus+buruh&hl=id&ct=clnk&cd=3&gl=id
[11] http://209. 85. 173. 104/search?q=cache:VCuurUMQ4vcJ:www. therationalradical. com/dsep/coca-cola-colombia. htm+Coca+Cola+Kolombia&hl=id&ct=clnk&cd=2&gl=id
[12] http://72. 14. 235. 104/search?q=cache:xxEZFEUNNpwJ:www. asianfoodworker. net/tnc/iuf-cc-bi2. htm+coca+cola+kasus+hak+asasi+manusia&hl=id&ct=clnk&cd=2&gl=id
[13] Serikat Buruh untuk Idustry Pangan dan Minuman di Kolombia
[14] Pasukan paramiliter sewaan Coca-cola adalah angkatan sayap kanan yang penuh dengan kekerasan,gabungan dari pada tentara dan tukang pukul bayaran. Coca-Cola menugasi mereka untuk “melindungi” para pekerja pabrik dari kelompok-kelompok sayap kiri militan yang mungkin saja menganggap bahwa pabrik-pabrik tersebut merupakan symbol globalisasi
[15] Isindro Gill merupakan seorang anggota dewan eksekutif serikat pekerja,dan anggota dari Sinaltrainal,yaitu serikat pekerja industry makanan nasional di Kolombia
[16] Sinaltrainal adalah serikat pekerja industri makanan nasional di Kolombia
